Lompat ke konten Lompat ke sidebar Lompat ke footer

Undak Usuk Bahasa Sunda untuk Meningkatkan Sopan Santun

Andelina.me - senantiasa selalu diberikan kesehatan, Aamiin. Pada artikel ini kamu akan mengetahui lebih banyak tentang Bahasa Sunda, mengenai Undak Usuk Bahasa Sunda untuk Meningkatkan Sopan Santun. Untuk lebih jelasnya simak ulasan lengkap di bawah ini.
Andelina.me - Bahasa adalah media utama di mana individu terlibat dalam interaksi sosial dalam masyarakat. Setiap masyarakat memiliki kebiasaan sosialnya sendiri, termasuk Bahasa sunda dengan bahasa tatakrama atau bahasa usuk langkah. Langkah bahasa usuk ini penting karena masalah tata krama sering menjadi perdebatan di masyarakat.

Perbedaan perilaku, perilaku yang tidak pantas, bahasa yang tidak pantas, dan faktor nonverbal seringkali menjadi konflik. Penggunaan bahasa Sunda semakin terkikis, dan tingkat penguasaan usuk di masyarakat sangat rendah sehingga sebagian orang menganggap bahasa Sunda saja sudah cukup.

Meskipun langkah-langkah usuk basa tidak hanya tata cara berkomunikasi dengan orang lain, tetapi mengandung satu hal penting, yaitu tata krama. Dengan menggunakan langkah usuk-basa yang baik, seseorang pasti memiliki sikap atau budi pekerti yang baik, juga berarti kesantunan berbahasa akan tercermin.

Undak Usuk Bahasa

Undak usuk bahasa atau tatakrama berbahasa merupakan sebuah ragam bahasa Sunda yang digunakan atau dipilih berdasarkan keadaan yang berbicara, yang diajak berbicara dan apa yang dibicarakannya. Berdasarkan artinya undak usuk basa Sunda berarti tingkatantingkatan atau tahapan-tahapan bahasa Sunda. undak usuk basa Sunda juga diartikan sebagai tatakrama berbahasa.

Pengertian ini diambil berhubungan dengan fungsi dari undak usuk basa Sunda itu, yakni untuk tujuan saling menghormati dalam kehidupan bermasyarakat. Penggunaan undak usuk bahasa bertujuan saling harga-menghargai, hormatmenghormati dalam kehidupan bermasyarakat, dalam berkomunikasi dengan orang lain.

Bukan maksud untuk memilah-milah dan atau menampakkan keterbedaan golongan sosial pada masyarakat. Penggunaan undak usuk bahasa berhubungan atau disesuaikan dengan kondisi usia, kedudukan, keilmuan, serta situasi orang yang berbicara, yang diajak bicara, dan yang dibicarakan.

Sejarah Lahirnya Undak Usuk Bahasa Sunda

Hingga abad ke 17 dimana masyarakat paSundan masih berpola ladang berpindah atau ngahuma dimana diketahui pada masa Kerajaan Salakanagara hingga Kerajaan Islam Banten, sesungguhnya bahasa yang digunakan oleh masyarakat di bumi PaSundan ialah bahasa Sunda Buhun yang tidak mengenal strata karena masyarakat pada saat itu masih bersifat kekeluargaan sehingga tidak mengenal strata.

Keadaan masyarakat berubah ketika Kerajaan Mataram Jawa di bawah pimpinan Sultan Agung melakukan invasi ke wilayah Priangan (daerah Provinsi Jawa Barat bagian tengah dan selatan kini) pada pertengahan abad ke 17. Pola menghuma berubah menjadi bersawah menetap dan pertanian, perubahan ini berdampak pada perubahan struktur bahasa yang digunakan orang Sunda.

Bahasa Sunda yang sebelumnya tidak mengenal stratifikasi, menjadi terbagi dalam tiga strata yakni hdan kasar. Kemunculan undak usuk bahasa dalam kebudayaan Sunda terkait erat dengan perubahan mode produksi dari ngahuma atau berladang kepada bersawah menetap.

Pada pola produksi bersawah, dibutuhkan adanya stratifikasi sosial yang tegas dalam hubungan sosial produksinya.Bahasa Sunda yang halus dan sedang biasa dipakai dalam percakapan sehari-hari kalangan ningrat atau menak. Sementara bahasa Sunda kasar digunakan oleh para petani penggarap atau buruh tani. Perubahan pola bahasa ini juga dipengaruhi oleh budaya Mataram Jawa yang memang telah mengenal tingkatan bahasa sejak lama (Unggah-ungguh Basa).

Jenis undak usuk bahasa

Undak usuk bahasa memiliki tiga tingkatan yaitu:
  1. Bahasa lemes/halus/sopan,
  2. Bahasa loma/ sedang, dan
  3. Bahasa kasar.

Bahasa lemes/ sopan/ halus

Penggunaan ragam bahasa lemes ialah untuk menunjukan rasa hormat dari orang yang berbicara kepada orang yang diajak bicara dan yang dibicarakan. Penggunaan bahasa sopan ini digunakan pada orang yang dianggap pantas untuk dihargai dan dihormati. Bahasa sopan ada dua macam yaitu sopan untuk diri sendiri dan untuk orang lain.

Bahasa sopan untuk diri sendiri

Ragam bahasa sopan/ hormat untuk diri sendiri ialah bahasa sopan yang dipakai untuk diri sendiri, baik berbicara dengan yang seumuran, lebih muda atau lebih tua. Selain itu dipakai juga untuk membicarakan yang seumuran, yang lebih muda atau yang lebih tua.

Kata-kata seperti dongkap (datang), hoyong (ingin), neda (makan), mondok (tidur), dll. Terdapat pula kata-kata yang berkaitan dengan pancakaki (sebutan keluarga) dengan menambahkan pun sehingga menjadi bahasa sopan untuk diri sendiri. Misalnya, pun biang (ibuku), pun adi (adikku), pun lanceuk (suamiku), dll.

Bahasa sopan untuk orang lain

Ragam bahasa sopan untuk orang lain ialah bahasa sopan yang digunakan kepada orang lain atau yang diajak bicara dan yang dibicarakan, baik yang seumuran, lebih tua atau yang lebih muda. Dengan menambahkan kata tuang pada pancakaki (sebutan keluarga) menjadi kata hormat untuk orang lain, misalnya kata tuang rama (bapakmu), tuang ibu (ibumu), tuang rai (adikmu), dll. Contoh kata-kata sopan untuk orang lain, candak (ambil), angkat (pergi), kulem (tidur), sumping (datang), ngadang (mendengar), dll.

Bahasa loma/ sedang

Bahasa loma ialah ragam bahasa yang digunakan kepada sesama atau teman yang sudah akrab, dalam suasana santai. Ragam bahasa ini pun digunakan apabila berbicara didepan orang banyak, dalam tulisan ilmiah, berita, dan artikel. Misalnya, datang(datang), adi(adik), nyaho(tau), sare(tau), ngadenge(mendengar), dll.

Bahasa kasar/ garihal

Bahasa kasar atau bahasa kasar pisan ialah bahasa yang dipakai oleh yang marah, berkelahi, memarahi, menghina, dan pada hewan. Misalnya, cokor (kaki), hulu (kepala), mantog (pergi), nyatu/ lolodok (makan), dll.

Cara Belajar Menggunakan Undak Usuk Bahasa

Penguasaan undak usuk bahasa dianggap penting bagi masyarakat Sunda, karena ada peribahasa hade ku omong goreng ku omong (baik buruk seseorang tergantung ucapannya) artinya segala sesuatu juga dianggap baik atau buruk oleh orang lain tergantung pada perkataan kita atau bahasa yang kita pergunakan.

Pengajaran undak usuk bahasa dalam rangka meningkatkan keterampilan berbahasa Sunda dianggap penting sehingga dalam jenjang pendidikan diajarkan di sekolah hal ini terbukti dengan dimasukannya undak usuk bahasa dalam kurikulum pendidikan. Cara lain yang dapat dilakukan dalam kehidupan seharihari cukup sederhana untuk menguasai undak usuk bahasa diantaranya:
  1. Sering memperhatikan orang lain yang bahasanya sesuai dengan undak usuk bahasa,
  2. Sering membaca buku yang undak usuk bahasa baik,
  3. Memiliki sikap kritis pada saat membaca atau menyimak orang lain berbicara,
  4. Membiasakan diri berbicara menggunakan undak usuk bahasa dengan baik dan benar,
  5. Dalam berlatih, membiasakan diri berbicara terlalu cepat agar ada awktu untuk memilih dan menyusun kalimat.

3. Sopan Santun dan Tatakrama Berbahasa

Sikap sopan santun yang merupakan budaya leluhur kita dewasa ini telah dilupakan oleh sebagian orang. Sikap sopan santun yang sangat menjunjung tinggi nilai-nilai hormat menghormati sesama, yang muda menghormati yang tua, dan yang tua menghargai yang muda tidak lagi kelihatan dalam kehidupan yang serba modernini. Hilangnya sikap sopan santun sebagaian siswa merupakan salah satu dari sekian penyebab kurang terbentuknya karakter.

Sikap sopan santun ditandai dengan perilaku menghormati kepada sesama baik yang lebih tua, sesama, juga yang lebih muda, menggunakan bahasa yang sopan, tidak memiliki sifat yang sombong. Dalam sopan santun penggunaan bahasa yang baik dan benar atau sesuai norma sangat dipertimbangkan dengan baik.

Selain itu gaya berbicara, tinggi rendahnya suara, gestur tubuh, yang baik merupakan aspek non kebahasaan sangat penting dalam bersopan santun. Dapat dilihat bahwa konsep sopan santun sangat erat kaitannya dengan undak usuk bahasa atau tatakrama bahasa.

Dalam hal ini masyarakat Sunda yang memiliki sopan santun harus mampu menggunakan tatakrama bahasa dengan baik karena merupakan aspek yang paling utama dalam sopan santun bagaimana berbicara dengan orang yang dihormati baik yang lebih tua, atau lebih muda serta dengan teman dalam situasi santai.

Penguasaan undak usuk bahasa menjadi sangat penting karena secara tidak langsung akan menunjukan karakter orang Sunda yang memiliki norma-norma kesopanan yang luhur. Seorang individu yang menguasai undak usuk bahasa tidak mungkin akan berteriak-teriak dengan nada kesal kepada orang yang lebih tua dengan menggunakan bahasa lemes/ sopan.

Sebaliknya ia akan santun baik dari segi gesture, nada suara, apabila dia menguasai dengan baik undak usuk bahasa, karena malu dengan bahasa yang digunakan. Kalimat, “Ceu, ngiring modol!” (Kak, ikut buang air besar!) tidak akan terlontar apabila masyarakat menguasai undak usuk bahasa.

4. Aspek Sopan Santun Pendukung Tatakrama Berbahasa

Penggunaan undak usuk bahasa dianggap sopan apabila memperhatikan empat hal di bawah ini, diantaranya.
  • Lentong/ gaya berbicara, intonasi, dan nada
  • Pasemon/ mimik wajah
  • Rengkuh/ gesture
  • Penampilan
Hal yang lebih penting dalam penggunaan undak usuk bahasa ialah niat atau ketulusan hati yang berbicara, kebaikan hati dan rasa kenamusiaan. Walaupun berada di luar kebahasaan namun sangat menentukan tinggi rendahnya nilai kesopanan dan kemanusiaan, dan berkaitan dengan adat kebiasaan. Oleh karena itu dalam berbahasa harus sesuai dengan tatakrama masyarakat.

Kesimpulan Undak Usuk Bahasa Sunda 

Langkah-langkah penguasaan bahasa atau tata krama USUK secara tidak langsung akan mengantarkan masyarakat menuju karakter orang Sunda dengan sikap santun. Langkah-langkah menggunakan bahasa USUK bertujuan untuk saling menghormati, menghargai dalam kehidupan bermasyarakat, ketika berkomunikasi dengan orang lain.

Ada dengan bahasa usuk usuk, penutur harus memperhatikan perannya dalam komunikasi (penutur, yang dituturkan, dan yang dituturkan) karena ada tiga jenis bahasa usuk usuk, bahasa yang lembut/sopan (untuk diri sendiri dan orang lain), Loma dan bahasa yang kasar. Sunda asli disebut juga sunda buhun, bahasa dasar usuknya tidak diketahui.

Munculnya ordo usuk disebabkan oleh invasi mataram ke tanah sunda pada pertengahan abad ke-17 dan transformasi masyarakat yang bergaya keluarga menjadi masyarakat kelas sosial, yang mengakibatkan munculnya ordo usuk.

Di luar itu, penggunaan bahasa usuk usuk saat ini bukan lagi tentang kelas sosial, tetapi tentang norma bahasa atau tata krama berbahasa, cara berbicara dengan orang yang lebih tua, orang lain, orang muda, atau diri sendiri, dan bahasa yang kasar. Tidak cocok untuk digunakan dalam pidato. sehari-hari.

Langkah-langkah berbahasa usuk sesuai dengan konsep kesantunan, baik Mendemonstrasikan tata cara berkomunikasi dengan bahasa yang baik dan santun, antara lain lentong/nada, pasemon/tiru, pelukan/gerak tubuh, dan penampilan. Menggunakan bahasa usuk yang baik Dengan memperhatikan empat langkah kesantunan berbahasa, masyarakat akan menampilkan dirinya sebagai masyarakat
berkarakter dan memiliki norma sosial.

Ikuti terus Andelina.me di aplikasi Google News klik following, dapatkan update Bahasa Sunda terbaru dengan sangat mudah.

Untuk berdiskusi tentang Undak Usuk Bahasa Sunda untuk Meningkatkan Sopan Santun, silahkan tulis pada kolom komentar atau bisa menghubungi dengan klik menu kontak di blog ini, dan share info ini sebanyak-banyaknya ke media sosial kalian ya ^-^ Semoga bermanfaat, salam Pendidikan!

Artikel ini sudah publish dengan link https://www.andelina.me/2022/02/undak-usuk-bahasa-sunda-untuk.html.

Disclaimer: Setiap artikel yang berhubungan dengan soal-soal beserta kunci jawabannya, bertujuan untuk membantu siswa belajar dalam persiapan menghadapi UTS/PTS maupun UAS/PAT di sekolah. Tidak ada unsur membocorkan soal yang sifatnya rahasia.
Super Thanks Silahkan yang ingin mentraktir Admin, Dana akan digunakan untuk pengembangan website ini www.andelina.me, Terima kasih.